AQIQAH

by sandraproject

 

     Kelahiran seorang anak bagi sebuah keluarga adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Di dalam syariat Islam untuk menunjukkan rasa syukur akan kehadiran anak dilaksanakan lah sebuah ritual yang bernama Aqiqah. Aqiqah adalah serangkaian ajaran Nabi Muhammad SAW untuk anak yang baru lahir, terdiri atas mencukur rambut bayi, memberi nama, dan menyembelih hewan. 

 
     Di dalam ajaran islam hukum akikah adalah sunnah muakkad, dimana apabila kita tidak melaksanakannya tidak berdosa, namun apabila kita melaksanakannya akan mendapatkan pahala, dan ada baiknya apabila kita mampu melaksanakan akikah kita laksanakan, karena banyak manfaat dari akikah yang dapat kita ambil, diantaranya:

a.        Akikah merupakan suatu pengorbanan yang akan mendekatkan anak kepada Allah di masa awal ia menghirup udara kehidupan,

b.       Akikah merupakan tebusan bagi anak dari berbagai musibah, sebagaimana Allah telah menebus Ismail a.s. dengan sembelihan yang besar,

c.        Sebagai pembayaran hutang anak agar kelak di hari kiamat ia bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya,

d.       Merupakan media untuk menunjukkan rasa syukur atas keberhasilan melaksanakan syariat Islam dan bertambahnya generasi mukmin,

e.       Mempererat tali persaudaraan. Dalam hal ini akikah bisa menjadi semacam wahana berlangsungnya komunikasi dan interaksi sosial yang sehat.

 

Waktu untuk dilaksanakannya akikah biasanya pada saat bayi berumur tujuh hari. Sesuai dengan hadits riwayat Aisyah r.a :

“Rasulullah SAW pernah membuat akikah untuk Hasan dan Husain pada hari ketujuhnya.” (HR Ibnu Hibban, Hakim, dan Baihaqi)

Hewan yang digunakan sebagai kurban untuk akikah adalah kambing, jumlahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan, hal ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi

“Untuk anak laki-laki disembelih dua ekor kambing dan untuk anak perempuan disembelih satu ekor kambing. Tidak jadi masalah apakah kambing itu jantan atau betina.”

 

Syarat-syarat hewan yang sah untuk dijadikan akikah, sama dengan syarat-syarat hewan kurban, yaitu :

a.        tidak cacat,

b.       tidak berpenyakit,

c.        cukup umur, yaitu kira-kira berumur satu tahun,

d.       warna bulu sebaiknya memilih yang berwarna putih.

 

Persyaratan tersebut sebenarnya dapat melatih kita juga, agar senantiasa memakan sesuatu yang terbaik.

Daging sembelihan akikah lebih baik dimasak terlebih dahulu dan tidak memberikannya dalam keadaan mentah, hal ini termasuk sunnah, karena jika dagingnya sudah dimasak maka orang-orang miskin dan tetangga (yang mendapat bagian) tidak merasa repot lagi. Dan ini akan menambah kebaikan dan rasa syukur terhadap nikmat tersebut.

Rangkaian dari kegiatan Akikah :  Menamai anak dan Mencukur rambut
 
Menamai anak
Baik buruknya seseorang memang tidak terletak pada namanya semata, melainkan pada akhlak dan amal shalehnya. Namun dalam pandangan agama, nama juga berfungsi sebagai doa.

Tentang pentingnya pemberian nama yang baik Nabi SAW bersabda :

 

“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak-bapak kalian, maka baguskanlah nama-namamu.”  (HR Muslim).

 

Mencukur rambut
Pada saat mencukur rambut bayi sebaiknya dilakukan di hadapan sanak keluarga agar mereka mengetahui dan menjadi saksi. Boleh dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Atau jika tidak mampu, bisa diwakilkan kepada ahlinya.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mencukur rambut bayi, yaitu :

a.        Diawali dengan membaca basmallah,

b.       Arah mencukur rambut dari sebelah kanan ke kiri,

c.        Dicukur secara keseluruhan (gundul) sehingga tidak ada kotoran yang tersisa,

d.       Rambut hasil cukuran ditimbang dan jumlah timbangan dinilai dengan nilai perak kemudian disedekahkan kepada fakir miskin.

 

Imam Malik meriwayatkan hadits dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata:

 “Fatimah r.a. menimbang rambut Hasan, Husain dan Zainab, dan Ummu Kultsum, lalu berat timbangan rambut tersebut diganti dengan perak dan disedekahkan.”

 

Membekali anak dengan dasar syariat sejak dini merupakan wujud tanggung jawab orang tua  karena anak akan mengarungi kehidupannya yang jauh lebih berat dari yang dihadapi orang tuanya sekarang, khususnya dalam menegakkan kebaikan.